Hatiku alam kelana, aku sebagai burung melihat apa yang kumau
luas alam hijau pohon-pohon berkilat matahari sore,
laut begitu dingin menyentuh ujung kakiku.
tak kusadar saat mata terpaku horison, sayapku basah
di ujung sana tanganMu melambai, cahaya lembut menyentuh retinaku
sementara kaki semakin dalam terkubur pasir basah oleh percik gelombang
lambaian itu semakin pasti, hatiku beku
sayapku basah
aku yang tak pernah kehilangan kata
kini bisu bagai batu-batu itu, dan nelayan yang menebar jaring tanpa suara
alam menjadi sunyi
dengung di telinga memekakkan ombak yang berteriak
Kini aku terbenam pasir, sayapku basah
hanya berharap Engkau di horison itu
melambaikan matahari, agar aku kering
meniupkan angin, agar aku lepas
(2 mei 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar