Selasa, 01 Desember 2009

sungai kita

kanak-kanak kita berkuasa atas sungai itu
aliran yang selalu tenang tidak kecil atau luap
tepian tanah liat
lumpur tipis lembut di kedalaman

sahabat
saat itu betapa kuatnya menahan rahasia tawa
ketika diam-diam kita tabur krawe di hulu
lalu musuh geng kita meringis peri menggaruk kulit ari

pohon namnaman itu masih ada seperti dulu
merimbun tak malu terlihat akar
terkias jarit sang putri tergerus aliran waktu
hingga hanya berkain sampah-sampah plastik
menutup betis yang rapuh berayap

sulit sudah kumencari gambaran tersisa
sungai kita malih rupa
kurus kering mengindap limbah akut
hingga nyaris seperti comberan belakang
kandang sapi Pak Abas dulu

rumah si genduk masih ada dan sama
pintu tertutup jati rapat jala-jala angga-angga
serapat rahasia yang tersimpan sejak dulu
gadis tolakan kita itu entah dimana

aku letih di bawah rimbun namnaman
tiupan daunnya membisikkan rintihan duka
temannya si cermai dan salam
telah jadi abu di pembakaran orang yang lewat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar