Kamis, 03 Desember 2009

ah 1

di kantor,
seorang perempuan tua menghampiri
seperti butuh informasi dariku
kuperlihatkan senyum, kudekatkan telinga
ada yang bisa saya bantu?

wajahnya tegang , mata mulai mencair
bibir bergetar seakan berat mengucapkan sesuatu
ku tuntun dia duduk di kursi tamu
kasih isyarat back office ambil minum

kupersilakan minum
wajahnya masih tegang, matanya makin berair
tangannya bergetar lalu melihat-lihat sekeliling
ada yang bisa saya bantu? kataku ramah

tidak bisa tidak aku mulai berprasangka
iba bersemi di hati
segenap servis kukerahkan
dia tamuku

pikiran mulai melayang ke Ibuku
seandainya dia ibuku bagaimana jika diperlakukan tidak layak
aku mencoba mengerti kebingunggannya
ku tahan kata agar tak bertanya dulu

ibuku, perempuan paling enerjik
diusianya yang senja ini masih mengelola berbagai kesibukan
dari masak, ayam, ikan, kucing, bunga-bunga, arisan, pengajian
tak ada waktu yang tak berarti baginya

kuingat waktu pulang kemarin
betapa sibuknya beliau seakan kedatangan orang penting sekali
padahal aku merasa bukan apa-apa
ayam, ikan gurami dan sayur nangka muda kesukaanku tersaji rapi

setelah kupulang
aku lupa telpon mengabari kalau sampai rumah seperti setiap pesannya
dan aku abaikan hingga berhari-hari tertelan kesibukan
mencari-cari alasan tuk melupakan penderitaan

ah Ibu...
siang tadi beliau telpon
tanya keadaanku, sehat?
aku bohongi dia, aku sehat, tak apa-apa dan baik-baik saja

lamunanku buyar
setelah orang itu berteriak menunjuk-nunjuk pintu
ternyata Bosku sudah di pintu, melewatiku
menemui perempuan itu

seperti bahasa isyarat bosku menyapa orang itu
ternyata perempuan itu tetangga Bosku dan bisu
menyampaikan pesan bahwa:
kucing Bosku terlindas mobil (oh Ibu maafkan aku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar