Selasa, 17 November 2009

sebutir nasi

ketika selesai santap di restoran
kudapati kamu lain meja
selisih hadap hingga tak bisa bertatap

mengapa kau menghadap sana diam saja
saat dengan lembut kupanggil namamu
paling tidak kau bisa sedikit melirikkan matamu
atau kau kasih isyarat apalah

kukeraskan sapaku kau masih angkuh
sepertinya wajahku mendatangkan bencana dahsyat
yang kan memporak porandakan jaringan kenyamananmu
lalu kau kan jatuh dilembah kesengsaraan bertubi-tubi
hingga hatimu hancur tergilas batu-batu jurang

sebenarnya hatiku tak tega tuk sampaikan ini
tak sepadan dengan penampilanmu yang sangat resmi dan rapi
tampak penuh konsentrasi akan suatu yang penting dan sangat vital

sibuk dengan HP di tangan kiri
sedang jemari kananmu mencengkeram kuat tas putih
mungkin pikiranmu sedang terpaku sesuatu
harapan kan raih piala
atau sedetik lengahmu adalah bertaruh ribuan nyawa

tak tega lagi kalau tak kusampaikan
kubuang keraguanku bila kan mengganggu
kuabaikan angkuhmu demi hati baik
tuk hindarkan mala petaka menimpamu

kuberanjak dari meja kuhampiri
lembut kutepuk bahumu
bersamaan dengan tergesa beranjakmu
satu kejutan hingga tanganku terlempar dan kau hampir terjatuh

segera kutangkap lenganmu kuat-kuat
kubisikkan kata sebening mungkin nada di telingamu
: maaf ada sebutir nasi di sudut bibirmu

(juli '09)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar