Selasa, 17 November 2009

merah pudar putih

panitia agustusan membeli bendera plastik sebongkok
tiap gang di tempat tinggalku di beri jatah 10 kantong
orang-orang pada berkerumun
sambil bicara apa saja

seorang tetetangga yang baru pulang dari luar kota bergabung
kata sapa pertama sungguh membuatku terperangah
seperti tak disadari kata-katanya membuatku sejenak merenung
selamat pagi, lho bendera tahun kemarin kok dirangkai lagi?
lalu kita terlibat pembicaraan ramah tamah enteng-enteng saja
tapi tetap saja hatiku terpengaruh kata-katanya itu

bendera bekas?
lalu kuamati bendera plastik di tanganku
benar juga warna merahnya agak tipis
menurutku terlalu muda untuk dikatakan merah putih

tak sadar telunjuk dan ibu jariku memencet ujungnya
seperti tak terasa ada batas plastik mungkin saking tipisnya
atau karena gemasku sebagai luapan ketaksempurnaan bendera itu
disaat semangat agustusan bergejolak dan membara di dada

bendera bekas
sekali merdeka tetap merdeka
merdeka atau mati
mati satu tumbuh seribu
dan wajah-wajah keras laskar revolusi
bercampur di otakku
membuat gigiku mengatup kencang
semangat pejuang 45 merasuk tubuhku

terbayang pemilik pabrik bendera
yang menangguk untung berlipat dengan mengurangi warna dan volume
seperti memain-mainkan kemerdekaan negriku
menjelma menjadi wajah penjajah yang harus kuenyahkan
tahukah kamu kami disini merangkai plastik buatanmu
dengan sepenuh jiwa

karena hanya itu lambang yang ada maka di abaikan merah yang pudar
sepenuh semangat perjuangan kami bentangkan benang beratus ratus meter
belitkan di pohon-pohon, rumah-rumah di sekujur perkampungan sempit ini
ibu-ibu dan remaja putri seperti regu dapur umum
mengantar kopi, teh dan makanan kecil lainnya
indonesia kecilku bersatu pagi itu
semangat berapi-api
semampu hati tuk bikin rapi
kampungku telah memanas
jiwa-jiwa yang merdeka bersatu

terasa bahuku di colek
mas pinjam rokoknya
kusodorkan sepuntung itu
lalu bara di pucuknya tak sengaja membakar benang
maka putuslah rangkaian beratus-ratus meter itu
menyerupai jala
menjaring pohon-pohon dan rumah-rumah

: kampungku terbelit benang kusut
dengan sampah merah pudar putih berserakan di mana-mana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar