lidah api itu menjilati ujung pisau ini
sampai membara hampir di penghujung tangkai
sekarang aku gelisah mencari darah
untuk menyepuhnya
sulit kutemui
maka ketemui guruku
pendekar padang alang-alang gersang
kutanya haruskah darah guru?
Iya. jawabnya.
itu untuk menguatkan mata pisaumu.
cepat cari darah!
katanya menggelegar meneguhkan keyakinanku
keburu bara pisau mendingin
segera kutancapkan di ulu hatinya
dia tersenyum
sekaratnya berbisik
anakku, ilmu yang kuberi tlah kau sempurnakan
bertahun-tahun kisah itu sudah berlalu
aku jadi pande besi terkenal setara empu
kupandangi satu-satunya pisau itu diantara pedang-pedang buatanku
semua tak ada yang mengalahkan kekuatannya
karena pedangku hanya kusepuh dengan kapur putih
kini aku telah renta
tak seorang muridpun ku angkat
takut kisah itu terulang
maka untuk pengobat gelisahku selalu kuukir di sarung pedang buatanku:
nilai sebuah mutu sebanding dengan pengorbanan
(8okt'09)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar